Archive for July, 2005

All about Love

Tuesday, July 26th, 2005
Cinta Menurut Imam Muhammad Ibnu Daud

Imam Muhammad Ibnu Daud (rahimahullahu) berkata,
“Kami telah menuturkan beberapa pendapat penyair mengenai cinta bahwa cinta pada mulanya terjadi dari penglihatan dan pendengaran. Kemudian bila Allah menghendaki kita dibuat untuk dapat selalu mengingat-ingat apa yang mungkin diakibatkan oleh pendengaran dan penglihatan. Lantas kenapa bisa terjadi cinta dan bagaimana? Bagi orang awam keberadaan cinta tidak terlalu menjadi perhatian mereka, sedangkan bagi orang-orang yang ahli mereka selalu mempertanyakan sebab-musababnya.”

Dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam beliau bersabda :
“Ruh-ruh adalah layaknya tentara perang yang disiagakan, barangsiapa yang saling pengertian dengannya maka akan terjalin sebuah hubungan yang harmonis dan barangsiapa yang mendustainya maka akan timbul permasalahan yang ditimbulkan darinya.”

Seorang penyair berkata:

Aku membawa segunung cinta untukmu
Sedang aku sesungguhnya tidak mampu membawa jubah dan aku begitu lemah
Cinta bukanlah bagian dari kebaikan dan tenggang rasa
Akan tetapi cinta adalah sesuatu yang karenanya jiwa terbebani dengan beban yang berat.

Sedang Imam berpendapat bahwa cinta yang hakiki adalah,
“Tidak berpikir untuk mencintai selain kekasihnya dan tidak mengharap ketenangan kecuali dari orang yang telah menyiksanya,”
Ia juga berkata,
“Jika seorang kekasih bersabar dengan ujian dari kekasihnya (kalimat ini ditujukan kepada pengorbanan cinta untuk menggambarkan seberapa jauh cintanya), maka hal yang demikian itu adalah sebuah keberuntungan yang besar dan kesadaran yang agung. Bagaimana tidak, jika sepasang kekasih yang hatinya bersih yang dimulai dengan penyamaan karekter (maksudnya penyesuaian rohani) kemudian harus berhadapan dengan batasan-batasan dari etika agama (maksudnya kepantangan pencinta dari apa yang bisa menodai cinta mereka berdua) lalu diuji dengan menjalani serangkaian uji coba, maka sepasang kekasih akan sampai pada keadaan dimana harapan terdekatnya akan menjadi sebuah kenyataan.”

I’m So Sorry

Tuesday, July 26th, 2005

Maafkan Aku Bila Aku Mengeluh

Hari ini, di sebuah bus, aku melihat seorang remaja
tampan dengan rambut sedikit ikal. Aku iri melihatnya.
Dia tampak begitu ceria, dan aku sangat ingin memiliki
gairah hidup yang sama. Tiba-tiba dia terhuyung-huyung
berjalan. Dia mempunyai satu kaki saja, dan memakai
tongkat kayu. Namun ketika dia lewat …. ia
tersenyum. Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh.
Aku punya dua kaki. Dunia ini milikku.

Aku berhenti untuk membeli sedikit kue. Anak laki-laki
penjualnya begitu mempesona. Aku berbicara padanya.
Dia tampak begitu gembira. Seandainya aku terlambat
sampai di kantor, tidaklah apa-apa. Ketika aku pergi,
dia berkata, ‘Terima kasih. Engkau sudah begitu baik.
Menyenangkan berbicara dengan orang sepertimu.
Lihatlah, aku buta.’ Ya Allah, maafkan aku bila aku
mengeluh. Aku punya dua mata. Dunia ini milikku.

Lalu, sementara berjalan. Aku melihat seorang anak
mirip bule dengan bola mata biru. Dia berdiri dan
melihat teman-temannya bermain sepak bola. Dia tidak
tahu apa yang bisa dilakukannya. Aku berhenti sejenak,
lalu berkata, ‘Mengapa engkau tidak bermain dengan
yang lain, Nak ?’ Dia memandang ke depan tanpa
bersuara, lalu aku tahu dia tidak bisa mendengar. Ya
Allah, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua
telinga. Dunia ini milikku.

Dengan dua kaki untuk membawaku ke mana aku mau.
Dengan dua mata untuk memandang mentari dan
bukit-bukit. Dengan dua telinga untuk mendengar desir
angin dan segala bunyi.
Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh.

MARI KEMBALI KEPADA ISLAM

Wednesday, July 13th, 2005
Assalamu’alaikum Wr.Wb

Wajah Islam yang sebenarnya adalah indah, anggun, sempurna, tanpa cacat dan cela. Segala sisinya lengkap, cantik, tak ada sedikit pun kekurangan.

:> "Hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmatKu kepadamu dan Aku telah ridha Islam sebagai agamamu." (Al Maidah 3)

Namun sering tergambar di benak masyarakat umum, bahkan mayoritas umat Islam sendiri bahwa Ajaran Islam penuh dengan kekejian, kerusakan, teror, intimidasi, kekerasan dan hal-hal yang berbau negatif. Dari sini kita harus jeli memandang bahwa tidaklah ajaran islam itu identik dengan umat Islam. Karena mayoritas umat di zaman ini tidak mengerti, dan tidak pula mengamalkan Islam itu sendiri. Ajaran Islam sangat indah nan sempurna, sedangkan di sisi lain mayoritas umat islam tidak mengamalkan keindahan ajaran Islam tersebut.

Mari kita memandang dengan dengan pandangan yang jernih. Mari kita gali ajaran Islam yang selama ini banyak ditinggalkan oleh umat. Kita akan temukan mutiara-mutiara kecermelangan ajaran islam, jernih, bening tak keruh sedikitpun. Tak ada yang dibawa kecuali kebaikan semata, tidak ada ajakan yang kita dipanggil kepadanya kecuali kepada kebahagiaan saja. Dia adalah rahmah bagi seluruh alam, sederhana, sesuai dengan akal fikiran yang jernih, dan fitrah kemanusiaan. Tak heran jika ajaran Islam dikatakan oleh Allah terhadap penyandang risalahnya

:> "Dan tidaklah Aku utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam"

Diantara keindahan ajaran islam adalah anjuran Nabi Shallallahu alaihi wa sallam

:> "Sayangilah yang ada di bumi, niscaya engkau akan disayangi oleh Yang ada di langit (Allah)." ( HR. At Tabrani)

Islam pun mengajarkan meninggalkan perbuatan aniaya terhadap diri sendiri dan orang lain.

:> "Takutlah kalian dari berbuat kedzaliman (aniaya) , karena sesunggunya kedazliman itu adalah kegelapan pada hari kiamat." (HR. Bukhari Muslim)

Ia pun mengajarkan untuk berbuat keadilan kepada siapapun Berbuat adillah , karena keadilan itu mendekatkan kepada ketakwaan

Hal-hal di atas sedikit yang diajarkan oleh islam kepada umatnya. Tidak pernah memberatkan namun tak juga merendahkan fitrah kemanusiaan. Segala ajaran islam mudah, bisa dipelajari dan dipraktikan di segala tempat dan di setiap masa. Ia bukan sebuah ilusi yang tak mungkin diwujudkan.

Apabila kita membutuhkan contoh untuk mengamalkan Islam, maka kita akan dapatkan contoh tersebut dalam tataran pribadi maupun masyarakat. Dalam tataran pribadi, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah suri tauladan kita. Apabila kita butuh contoh sebuah generasi idaman maka generasi sahabat adalah contoh nyata bagi kita. Sebuah ujung yang pasti dari pengamalan ajaran Islam….ketentraman, kebahagiaan, dan keridhaan.. Maka mari kita kembali kepada Al Islam…

Wallallahu a’lamu bish showaab